Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF-Indonesia Nyoman Iswarayoga menyatakan, Earth Hour jangan hanya berhenti pada 29 Maret 2014.

"Jadikan 60+ tersebut sebagai gaya hidup juga," ujarnya saat jumpa pers Earth Hour di Jakarta, Minggu.

Ia mengemukakan, gaya hidup layaknya disiplin mematikan peralatan elektronik ketika tidak dipakai, mencabut alat pengisi piranti elektronik (charger) dari jaringan listrik saat tidak digunakan, serta membuang sampah pada tempat dianggap masih kurang bagi masyarakat Indonesia.

"Konsumsi listrik dan energi di Indonesia semakin meningkat," katanya.

Indikator kenaikan tersebut, menurut dia, dapat dilihat dari kenaikan populasi masyarakat serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kalau memang ekonomi meningkat, berarti orang yang sebelumnya punya radio sekarang jadi punya televisi, yang tadinya pakai motor jadi pakai mobil," katanya.

Dia menyebutkan, survei WWF Global memperlihatkan bahwa penggunaan energi, sandang, pangan, papan tahun 2012 membutuhkan 1,5 kali bumi yang ada.

"Tahun 2050 nanti, butuh dua bumi. Bayangkan, bumi kita hanya ada satu," katanya.

Kampanye Earth Hour secara mendunia sudah dilaksanakan sejak 2007, dan pertama kali di Sydney, Australia. Di Indonesia kampanye Earth Hour selama ini sudah dilakukan sebanyak empat kali.

Partisipan kampanye tahun ini juga meningkat menjadi 34 kota di Indonesia mulai dari Banda Aceh hingga Sorowako dan Ambon. (*)